Rabu, 03 April 2013

penghianatan cinta dan persahabatan



Penghianatan Cinta dan Persahabatan
Karya : Rini Maya Sari

“Cinta”, setiap hari tak pernah lekang dari kata-kata ini, kata cinta selalu menjadi topik menarik untuk di bicarakan. Cinta bisa menyatukan dua hal yang terpisah, tapi bisa juga menghancurkan suatu hal yang awalnya menyatu namun akhirnya terpisah. Bahkan banyak persaudaraan dan persahabatan yang hancur karena cinta, seperti kisah yang di alami Dewi.
Dewi adalah gadis dusun yang cantik dan baik, dia baru saja lulus dari SMA dan kini dia kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di kotanya, dia mempunyai seorang teman pria yang merupakan teman dari kecil semenjak duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA, mereka pun selalu bersama karena mereka satu dusun. Pria itu bernama Rino, dan mereka berteman sangat baik.
Rino juga melanjutkan kuliah di kota namun beda Universitas dengan Dewi, bahkan tempat kosan mereka cukup jauh. Tetapi hal ini tidak membuat hubungan Dewi dan Rino menjauh. Rino tetap sering bermain ke kosan Dewi. Kebetulan Dewi mempunyai adik sepupu yang seumuran bahkan ia satu kosan bersamanya, namanya Putri iapun bersahabat dengan Rino. Jadi tak heran jika Rino sering bermain ke kosan Dewi. Bisa dibilang kedekatan Putri dan Rino sama baik dengan kedekatan Rino dan Dewi. Dan suatu ketika Rino datang ke kosan Dewi bersama teman kuliahnya yang bernama Adit.
“Hai! Wi” sapa Rino
“Hai! No” yuk masuk No, sambil tersenyum Dewi menyambut kedatangan Rino dan Adit.
Setelah Rino dan Adit masuk, Rino pun mengenalkan Adit kepada Dewi.
“eh! iya Wi, kenalin nih teman kampus gue, namanya Adit”
“oh! iya, saya Dewi”
“saya Adit” sambil menjabat tangan Dewi.
Setelah perkenalan Dewi dan Adit mereka bertiga pun asik mengobrol sambil sesekali becanda, ditengah obrolan mereka bertiga Rino menanyakan Putri kepada Dewi.
“Putri mana Wi??”
“belum pulang kuliah No, tungguin aja bentar lagi juga dia pulang”
“mmm, iya pasti dong, soalnya ada yang pengen kenalan nih” kata rino sambil melirik Adit.
“apa sih loe No, ko ngelirik gue??” kata Adit karena merasa tersindir.
Tak lama kemudian Putri pun datang bersama Citra teman kuliahnya.
“eh ada tamu rupanya” kata Putri ketika masuk ke kosan.
“iya nih tamu spesial” kata Rino.
“siapa No? kalo kamu Ngga ah biasa aja” kata Putri sambil becanda.
“oh jadi gitu, Put?”
“haha, gitu aja marah aku kan cuman becanda No, emang siapa tamu special nya,?
“ini Put, kenalin temen kampus gue namanya Adit”
“mm, hai! saya Putri”
“saya Adit, salam kenal yah”
“iya salam kenal juga Dit, oh iya kenalin juga nih temen gue, Citra” Putri pun memperkenalkan Citra kepada Rino dan Adit.
“oh iya kak, kita mau ngerjain tugas malam ini, Citra mau nginep disini boleh nggak?” kata Putri pada Dewi.
“ya boleh lah” kata Dewi.
Setelah itu mereka asik membicarakan tentang perkuliahan mereka masing-masing, hingga waktu mulai petang Rino dan Adit pun pamit untuk pulang.
“Wi kita pulang dulu yah, kapan-kapan kita main lagi kesini, mari semuanya”
“oh! Iya, No, hati-hati di jalan” kata Dewi.
Setelah malam Putri dan Citra mulai mengerjakan tugas kuliah mereka, sambil mengerjakan tugas Citra bercerita pada Putri bahwa dia menyukai Rino. Putri pun menyarankan Citra untuk bercerita pada Dewi karena Dewi teman Rino dari kecil, pasti Dewi lebih banyak tau tentang Rino. Singkat cerita Citra pun bercerita pada Dewi tentang perasaannya pada Rino, dan meminta Dewi agar membantu dia untuk dapat lebih dekat dengan Rino.
Akhirnya Dewi menjadi makcomblang Rino dan Citra, hingga mereka pacaran. Gak ada yang menyangka mereka, karena Rino dan Citra baru bertemu satu kali dan baru kenal satu minggu. Padahal citra sebenarnya sudah mempunyai pacar selain Rino. Tapi hubungannya sudah agak renggang, setelah satu minggu berjalan Citra pun putus dengan pacar lamanya. Karena Rino dan Citra berpacaran, Citra menjadi sering menginap di kosan Dewi karena Rino sering bermain ke kosan. Agar Citra bisa sering bertemu dengan Rino dan Rino selalu datang ke kosan bersama Adit. Karena sering bertemu, Adit dan Putri mulai membuka perasaannya masing-masing yang ternyata saling suka dan akhirnya Adit dan Putri pun pacaran setelah beberapa hari Rino dan Citra berpacaran.
Lalu bagaimana dengan Dewi. Singkat cerita ia juga berpacaran dengan Rangga masih temannya Rino. Jadi, disini ceritanya teman dapat temannya lagi. Dari sini kemudian timbul masalah, sebenarnya Dewi tidak pernah mencintai Rangga karena sesungguhnya Dewi mencintai Rino sejak masih SMA. Namun lama kelamaan Rangga pun mengetahui bahwa Dewi tak pernah mencintai dirinya, dan akhirnya Rangga memutuskan untuk putus dengan Dewi setelah mereka berpacaran selama 4 bulan. Padahal saat itu Dewi sudah mulai melupakan Rino, dan mulai menerima Rangga. “tapi apa mau dikata lagi keputusannya Rangga sudah bulat”
Disisi lain hubungan Rino pun mulai renggang dengan Citra, karena Citra selalu membohongi Rino dan diam-diam sering jalan dengan Andre teman Rino. Andre pun menceritakan hal ini kepada Rino karena Andre tidak mau persahabatannya dengan Rino hancur karena di anggap merebut Citra dari Rino. Rino menjadikan ini kesempatan untuk putus dengan Citra karena Rino sebenarnya sudah tidak cinta lagi kepada Citra, justru kini Rino berbalik mencintai Dewi.
Setelah Rino putus dengan Citra, kini Rino berusaha untuk mendekati Dewi. Citra mengetahui jika Rino sedang mendekati Dewi dan Citra beranggapan bahwa Rino memutuskannya karena Dewi merebut Rino darinya. Dewi dan Citra yang semula hubungannya baik kini menjadi renggang gara-gara Rino. Tapi sebenarnya Dewi tak pernah merebut Rino dari siapapun. Rino putus dengan Citra karena murni kesalahan Citra.
Setelah Rino berpacaran dengan Dewi, Citra semakin menjadi-jadi dia benar-benar marah kepada Dewi dan dia berkata kepada Dewi bahwa dia akan merebut kembali Rino dari Dewi.
            “kamu tega yah Wi, kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai Rino, tapi kenapa kamu merebutnya dari aku?” kata Citra pada Dewi.
            “aku tidak pernah merebut Rino dari kamu. Rino memutuskan kamu karena itu murni kesalahan kamu sendiri” Dewi membela diri.
            “alah, udahlah gak usah membalikan keadaan, ingat ya Wi aku pasti akan merebut Rino kembali”
Dewi benar-benar tak habis pikir kalau Citra akan berpikiran begitu, sedangkan Citra benar membuktikan ucapannya. Di belakang Dewi, Citra sering menghubungi Rino dan berusaha untuk balikan lagi. Entah kata-kata apa yang Citra katakan pada Rino, setelah apa yang Citra buat kepada Rino dulu yang sudah menduakan dan membohonginya. Rino masih saja percaya pada ucapan Citra, akhirnya Rino menerima kembali Citra dan memilih meninggalkan Dewi.
            “kamu tega No, aku gak nyangka kalau kamu akan berbuat begini pada ku” kata Dewi setelah tahu bahwa Rino memilih kembali pada Citra.
            “maafin aku Wi, tapi aku benar-benar bingung” kata Rino.
            “kamu gak perlu bingung No, sekarang kamu hanya tinggal memilih. Kamu pilih aku atau Citra” kata Dewi tegas, bahkan tidak ada air mata yang mengalir dari Dewi. Sakit hatinya telah membuatnya membeku.
Rino hanya terdiam dan tidak bicara apa-apa.
            “oke, aku ngerti sekarang. Kamu pasti lebih memilih Citra, baik No kalau gitu kita putus saja. Aku gak mau melihat kamu lagi No dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku”
Dan kemudian Dewi pun pergi meninggalkan Rino yang hanya duduk termangu.
Beberapa saat kemudian Putri mendatangi Rino.
            “aku benar-benar ga nyangka No, kalau kamu setega ini, kamu jahat tau gak?” kata Putri yang marah karena kakak sepupunya dikhianati oleh pacar dan temannya sendiri.
            “ya terus aku meski gimana lagi Put? Aku bingung”
            “yang kamu harus tau No, Dewi cinta dan sayang sama kamu itu semenjak SMA. Namun dia tidak pernah berani ngungkapin semua itu, dan dia gak mau persahabatannya dengan mu hancur, tapi sudahlah semuanya sudah terlambat dan sekarang terserah kamu No. Ya, semoga saja kamu bahagia dengan pilihan kamu dan semoga aja kamu gak salah dengan keputusan kamu ini”
Putri pun pergi meninggalkan Rino, dan menemui Dewi untuk menghiburnya, karena Putri tahu dan memahami apa yang sedang dirasakan oleh Dewi. Hanya Adit yang masih berdiri di depan Rino.
            “aku gak ngerti apa yang ada dalam pikiran kamu No, sampai kamu bisa balikan lagi sama Citra. Padahal aku lebih suka lihat kamu sama Dewi dibanding sama Citra” kata Adit sambil duduk di samping Rino.
Sambil melihat muka Adit, Rino pun berkata,
            “ah, udahlah Dit, gak perlu dibahas lagi, aku sudah cukup pusing sekarang. Mending sekarang loe tinggalin aja gue disini karena gue lagi pengen sendiri”
            “oke No, kalo emang itu mau kamu sekarang gue akan pergi” akhirnya adit pun pergi meninggalkan Rino.
**
            “ya sudahlah Wi, mendingan kamu lupain aja si Rino, pasti di balik semua kejadian ini ada hikmahnya” Putri mencoba menghibur Dewi.
            “iya, makasih ya Put, kamu sudah peduli sama aku. Ya, aku tau kok. Mungkin semua ini cobaan untuk ku, Put”
Kini Dewi hanya mencoba tegar dan sabar menghadapi pengkhianatan cinta Rino. Dewi mengerti mungkin ini jalan yang terbaik yang di berikan tuhan buat mereka. Dewi percaya jika suatu ketika dia akan mendapatkan orang yang lebih baik dari Rino, namun yang Dewi sayangkan adalah persahabatannya dengan Rino dari kecil kini menjadi hancur, begitu pula persahabatannya dengan Citra. Tapi Dewi bersyukur akhirnya dia bisa tahu siapa orang yang sebenarnya tulus dan selalu ada untuknya, dan siapa saja yang pantas untuk dijadikannya sahabat. Dewi kini hanya berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi.


cerpen meraih cahaya dalam gulita




Meraih cahaya dalam gulita
Karya : Yemi Wulandari

Berpacu dengan waktu lumuran keringat basahi dahi, terik mentari bakar bumi seakan tiada peduli berjuang demi sesuap nasi. Aku duduk terdiam memandangi penomena yang terjadi, betapa kerasnya kehidupan dunia tanpa peduli rasa dan asa sosok manusia. Terlintas di pikiran akan impian dan masa depan yang aku harapkan mengingat banyak lulusan sarjana namun menyandang status pengangguran.
Nama ku Yemi Wulandari, sekarang aku duduk di bangku kuliah semester 3 fakultas ilmu pendidikan di UNIBBA, suatu hari ketika menjalani perkuliahan seperti biasa setiap pergantian mata kuliah. Aku singgah di kosan temanku untuk sejenak membaringkan badan dan menenangkan pikiran dari lelah, dan kebetulan saat itu temanku belum sampai di kosan karena ada keperluan, aku pun menunggunya duduk di kursi depan kosan sembari menatap orang orang yang sedang bekerja memperbaiki jalan, sungguh miris melihat mereka bekerja keras dengan keringat mengucur deras tanpa peduli panasnya mentari yang membakar kulit mereka, saling bantu saling membahu tuk menyelasaikan pekerjaan itu. Beberapa saat kemudian temanku datang dan membuka kan pintu kosan untuk mempersilahkan masuk dan istirahat, aku pun masuk dan langsung membaringkan badan.
Terlintas kembali dalam benak apa yang telah ku lihat tadi, sepertinya rasa dan asa manusia sudah tidak ada, terbukti ketika melihat mereka saling tidak peduli terhadap apa yang di jalani dan di lalui, aku pun terdiam berselimut tanda tanya “bagaimana masa depanku nanti????”, “apakah gelar sarjana bisa menjamin???”, “apa aku akan kuat menghadapi kehidupan ini???”. Tanpa sempat terjawab satupun pertanyaan itu aku di kagetkan dengan nada dan getar handphone pertanda adanya pesan masuk, aku pun membuka isi pesan tersebut dan ternyata pesan dari temanku yang ada di kelas dan isinya memberitahukan bahwa dosen dari mata kuliah kedua yang sedang kami tunggu berhalangan masuk di karenakan ada kepentingan yang tidak bisa terlewatkan, lalu ku beritahukan kepada teman lain yang sedang ada bersamaku Rini dan Ani.

Meskipun mata perkuliahan sudah selesai tapi kami enggan pulang di karenakan cuaca yang sangat panas dan cahaya matahari yang menyengat, disana kami berbincang untuk mengisi kekosongan dan bertukar pikiran mulai dari masalah pembelajaran, baju, kehidupan hingga masalah impian, hingga akhirnya aku utarakan tentang apa yang ada dalam pikiran dan ku lihat tadi “dunia ini keras dan kejam, manusia tidak di perlakukan seperti manusia, jika kita lulus sarjana nanti apakah menjamin kehidupan kita tidak akan seperti mereka?????” sambil menunjuk ke arah orang yang sedang bekerja.
Rini dan ani pun melihat orang orang yang sedang bekerja tadi, lalu mereka terdiam seakan merasakan apa yang dari tadi saya rasakan dan pikirkan, “iyah mi, pendidikan tinggi tidak berarti jika kita tidak sungguh sungguh” sahut ani memecah kesunyian, dan akupun menjawabnya “apa yang akan kita alami nanti jika impian kita tidak tercapai???” mereka tidak menjawab hanya terdiam tanpa berpaling terus menatap orang orang yang basah bercucuran keringat, lalu kami pun kembali meneruskan perbincangan sambil merenungi apa yang telah ter jadi di bumi ini.
Perbincangan kami berlanjut hingga suara orang yang mengetuk pintu menghentikan pembicaraan kami, ani pun membuka pintu, terlihat tiga orang mahasiswa, salah satunya orang yang kami takuti dan kami segani selama ini, “ada yang bisa di bantu?” tanya ani, “maaf ganggu, boleh minta waktunya untuk bicara dengan kalian?” jawab salah satu dari mereka lalu ani pun memperbolehkannya dan mereka memperkenalkan diri dan tujuan kedatanganya, nama mereka “gilang, anggi dan rizki” semenjak itu kami tau nama mereka dan nama orang yang selama ini kami takuti dan segani itu brnama gilang, ketua dari mereka. Lalu dia pun menjelaskan maksud dari kedatanganya yaitu mengajak kami bergabung di organisasi yang mereka dirikan, organisasi itu bernama BANDIT (brandal intelek).
Pada awalnya kami jelas saja menolak bergabung, dari nama organisasi saja sudah identik dengan negatif, namun setelah di jelaskan tentang semua penjelasan bandit dan tujuanya, kami sedikit mengerti dan mengetahui bahwa mereka memberi nama BANDIT bukan tanpa tujuan melainkan ingin mengubah pemikiran manusia yang dangkal dengan menilai sesuatu hanya dari bungkus/nama tanpa mengetahui lebih dalam lagi, mereka sendiri mengartikan “Brandal” itu “Bebas” dan “Intelek” itu “pemikiran” jadi mereka mengambil arti Brandal Intelek adalah Kebebasan dalam berpikir. Setelah lama berbincang bertanya jawab dan saling menjelaskan akhirnya kami pun masuk dan mengikuti organisasi tersebut dengan rasa ingin tahu lebih dalam lagi.
Hari demi hari ku lalui dengan mengikuti organisasi ini dan ternyata benar saja, organisasi ini bertujuan untuk mengubah pemikiran dangkal manusia khususnya Indonesia. Beberapa perubahan kami rasakan mulai dari cara pandang sampai masalah kehidupan, bahkansekarang aku dan temanku yang lain dulu merasa takut terhadap gilang karena melihat dari fisik dan apa yang dia pakai. Namun setelah kami mengenalnya lebih jauh, disana kami tahu bahwa dia seorang yang baik.
Sempat dalam pikiran kami terlintas masuk organisasi ini hanya ingin tau dan jika tidak nyaman akan keluar lagi. tapi semua di luar dugaan, dalam organisasi ini selain merasa nyaman kami juga bertukar pikiran dan belajar ilmu kehidupan, kami merasa punya keluarga kedua setelah di rumah, saling bantu saling mengingatkan dan saling menjaga satu sama lain.
Pada suatu hari aku, rini dan ani berkumpul kembali di kosan lalu ani bertanya “yemi, rini apa kalian akan meneruskan organisasi ini??” serentak aku dan rini menjawab “iya”, “aku merasa nyaman di organisasi ini, merasa mempunyai keluarga kedua” jawabku, lalu rini menjawab “kita belajar di fakultas pendidikan, jadi kita harus belajar cara bersosialisasi, komunikasi. dan organisasi ini mengajarkanya”, ani pun membalas lagi “iya, aku juga merasa dapat banyak ilmu yang tidak di ajarkan di organisasi ini”, dari sana kami memutuskan untuk terus mengikuti organisasi ini.
Setelah kami masuk di organisasi itu, kami kembali percaya diri untuk menghadapi masa depan dengan saling menasehati bertukar pikiran dan pengalaman. Meskipun belum besar tapi kami juga memiliki anggota di universitas lain bahkan mempunyai impian untuk lebih melebarkan sayap lagi.
Sekarang aku merasa punya keluarga lagi. Ada yang menjaga dan memperhatikan ku di bandung meski keluarga utama dan orang tuaku jauh di sebrang sana, karena aku merantau dari riau untuk menuntut ilmu disini, bahkan dulu mempunyai keinginan kuliah di ITB (Institut Tekhnologi Bandung)  namun sekarang aku berpendapat lain, meski di manapun kuliahnya entah itu Universitas ternama atau tidak tapi tetap semua kembali lagi tergantung kepada diri kita sendiri dengan cara seperti apa kita belajar menghadapi dan menjalani.

Meski keinginan awal aku kuliah tidak tercapai yaitu masuk Univesitas ternama di bandung namun di sini sekarang aku bahagia dan percaya bahwa semua kembali lagi terhadap diri kita, disini sekarang aku punya keluarga dan disini juga aku menjalani waktu dengan menuntut ilmu.
Hari demi hari ku lalui dengan lebih pecaya diri tanpa rasa cemas lagi, rasa takut akan masadepan dan kejamnya kehidupan yang dulu membelenggu hidupku kini sudah runtuh. Sungguh sangat berbeda jiwa ku yang dulu dengan sekarang, percaya atau pun tidak tapi itu yang aku rasakan.
Dari kerasnya kehidupan dan angkuhnya dunia, sekarang aku berdiri dan tak pernah takut lagi.  Ku jalani waktu dengan mencari ilmu meskipun di luar perkuliahan, jika ada dosen yang tidak dapat masuk maka aku menggunakan waktu itu untuk mencari ilmu di luar seperti ilmu organisasi, kehidupan, kemasyarakatan, kewirasusahaan dan banyak lagi yang masih harus aku pelajari, sampai kapan pun aku tidak akan pernah merasa puas dan pintar,  aku akan tetap mencari, mendaki tanpa pernah berhenti.
Sunggguh sangat berguna semua pengalaman dan kehidupanku di sini, suka duka ku alami disini, mengajarkanku tentang arti kehidupan dan bagaimana cara menghadapina. Banyak orang yang berpendapat bahwa dulu aku manja, cengeng dan tergantung orang tua namun sekarang semua itu tidak pernah ku dengar lagi, dalam terjalnya jalan yang harus di lalui kini ku sadar bahwa aku tidak bisa terus berdiri dengan kaki orang lain melainkan dengan kaki sendiri, pendirian, pemikiran, usaha dan keringatku sendiri.

Resensi Drama "4 Gadis Sayuran"



“Empat Gadis Sayuran”

Disebuah desa terdapat satu keluarga petani yang hidupnya cukup sederhana, yaitu keluarga Pak Saman dan Bu Saman. Mereka  tinggal disebuah rumah kecil. Mereka mempunyai empat orang anak gadis yang sangat cantik, masing-masing mempunyai sifat dan mimpi yang berbeda. Anaknya yang pertama yang diberi nama Brokolina, dia sangat egois dan suka memperlakukan adik-adiknya dengan tidak baik. Yang kedua Timunia, gadis yang penyayang, namun sangat pelit. Yang ketiga Tomatina, gadis yang baik hati dan suka mengalah. Dan yang bungsu namanya Kunyita, gadis polos dan apa adanya. Walaupun sifat mereka berbeda, tapi mereka sangat sayang pada kedua orang tuanya.
Pak Saman memberi nama pada anak-anaknya sesuai dengan keadaan panen mereka, makanya nama anak-anaknya diambil dari nama-nama sayuran. Mereka sangat bersyukur mempunyai empat anak gadis yang selalu membantunya bertani. Anak-anaknya bisa tumbuh dewasa dan sangat cantik, hingga banyak pemuda-pemuda yang jatuh hati pada anak-anaknya. Namun yang membuat Pak Saman sedih, sampai saat ini anak-anaknya belum ada yang mau menikah, karena mereka memiliki kriteria pemuda idamannya masing-masing.
Akhirnya pada suatu hari Bu Saman mengusulkan pendapatnya pada Pak Saman untuk mengumpulkan anaknya dan bertanya bagaimana kriteria pemuda idaman anak-anaknya itu, dan setelah itu akan diadakan sayembara dengan syarat-syarat yang akan diajukan anak-anaknya. Karena Bu Saman sudah tidak sabar ingin melihat anak-anaknya menikah dan mempunyai anak. Pak Saman pun menyetujuinya dan segera mengumpulkan anak-anaknya di ruang keluarga untuk menanyakan hal itu. Anak-anaknya pun menjawab dengan jawaban yang masing-masingnya berbeda.
Akhirnya Pak Saman mengumpulkan semua pemuda-pemuda yang ada di daerah sana di lapangan dekat perkebunannya, untuk mengumumkan sayembara yang di adakan untuk siapa saja yang ingin menjadi menantunya. Dan mengumumkan mengenai syarat-syarat yang diajukan anak-anaknya. Para pemuda pun sangat antusias untuk mengikuti sayembara tersebut, walaupun mereka diberi syarat-syarat yang sangat sulit.
Berita Sayembara Pak Saman pun menyebar luas ke beberapa daerah, hingga yang mengikuti sayembara sangat banyak dan datang dari berbagai daerah.
Akhirnya sayembara pun dimulai. Dan dari sekian banyak orang yang terpilih tinggallah enam orang yang tersisa yang datang dari luar desa tersebut, untuk mengikuti babak terakhir. Dan di babak ini peserta sayembara di tantang untuk melukiskan wajah anak-anaknya Pak Saman, hanya dengan mendengarkan setiap suara gadis yang terdengar oleh mereka. Dan bagi siapa yang lukisannya sangat mirip dengan pemilik suara tersebut, maka dia telah berhasil dan berhak untuk menikahinya. Para peserta pun sangat tegang karena dari mereka semua tidak ada satu pun yang tahu bagimana wajah anak-anaknya Pak Saman, mereka hanya tahu bahwa anak-anaknya itu sangat cantik.